Tiga mahasiswi Tadris Bahasa Indonesia IAI Al Qolam Malang, yakni Afifatul Farida, Anjanillah Zumzumi, dan Choirul Solikha, menuturkan perjalanan mereka dalam menekuni dunia kepenulisan. Ketiganya tercatat sebagai mahasiswa semester 4 yang akan memasuki semester 5.
Kisah ini bermula dari Choirul Solikha yang lebih dahulu terjun ke dunia tulis-menulis. Awalnya, ia hanya iseng bergabung dengan sebuah grup kepenulisan di Facebook. Di grup tersebut, kerap dibagikan informasi mengenai berbagai perlombaan yang berkaitan dengan karya tulis. Ketertarikannya itu mendorongnya untuk ikut serta, sekaligus mengajak dua rekannya bergabung.
Pada waktu itu, Choirul menemukan pamflet Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) yang diselenggarakan oleh Formadiksi (Forum Mahasiswa Bidikmisi) Universitas Negeri Malang. Pada mulanya, ia berencana mengajak sejumlah rekan dari program Bidikmisi. Namun, rencana tersebut urung terlaksana dengan berbagai alasan. Akhirnya, ia menggandeng teman sekelasnya yang lebih dekat dan kerap menjadi tempat berbagi cerita, dan mereka pun menyatakan kesediaannya.
Setelah mempelajari ketentuan lomba, ketiganya mencari dosen pembimbing. Mereka memilih Bapak Muhammad Masykur Baiquni, M.Pd., yang juga menjabat sebagai Kepala Program Studi. Dosen tersebut dinilai akrab dengan mahasiswanya serta memiliki kepedulian yang tinggi terhadap mahasiswa. Sejak itu, mereka mulai menyatukan gagasan untuk menyusun abstrak penelitian.
Batas waktu pengumpulan abstrak ditetapkan pada 15 Mei. Pada tahap awal, mereka telah menyepakati sub tema pendidikan dan memperoleh persetujuan dari dosen pembimbing. Namun, kesibukan menghadapi Ujian Akhir Semester membuat pembahasan abstrak tertunda.
Pada 15 Mei, mereka tetap bekerja di kampus di tengah jadwal perkuliahan, dengan tekad kuat untuk menuntaskan naskah sebelum pengiriman ditutup pukul 00.00. Ternyata, kondisi di lapangan tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Setelah mencari referensi, mereka beralih ke sub tema kearifan lokal dengan judul Tradisi Pranata Mangsa di Kecamatan Kalipare. Karena waktu kuliah tidak memungkinkan untuk menyelesaikan naskah, mereka sepakat melanjutkan penggarapan di rumah masing-masing dan tetap menjaga komunikasi secara daring.
Selanjutnya, Choirul menelusuri beberapa media sosial Formadiksi dan mendapati bahwa batas waktu pengiriman abstrak ternyata diperpanjang.
0 Komentar