Oleh: Muhammad Masykur Izzy Baiquni
“Rahasia besar kesuksesan adalah menjalani kehidupan seperti seorang laki-laki yang tidak pernah lelah” Albert Schweitzer

Rabu, 25 Mei 2022 Saya mendapat kehormatan untuk menemani guru Saya Prof. Dr. KH. Imam Suprayogo,M.Si. untuk mengisi acara halal bi halal segenap guru RA, TKM, dan MI se Kecamatan Wajak Kabupaten Malang. Halal bi halal bertajuk “Halal bi Halal Keluarga besar IGRA, TKM, dan KKM MI se Kecamatan Wajak dengan Prof. Dr. KH. Imam Suprayogo” ini dihadiri lebih dari 300 orang undangan.
Perjalanan dengan sepeda motor dari rumah, Saya tempuh mulai pukul 06. 40 wib, hari ini Saya mendampingi perwakilan dari pengundang dan kami sampai di ndalem Prof. Imam di Sasando Tunggul Wulung pukul 08.05 wib.
Saya di sini ingin menulis beberapa kesan dan pelajaran yang Saya dapat ketika menemani belia mulai dari awal sampai akhir. Mungkin, ini tidak bisa mewakili semua. Namun, hal ini paling tidak bisa Saya ambil dari kaca mata Saya sendiri ketika bersama beliau. Sesungguhnya ini bukan kesan karena baru pertama kali bertemu, sebab Saya sudah lumayan sering bertemu dengan beliau.
Hanya saja Saya mungkin baru sempat menuliskan ini saat ini. Mungkin saja pandangan setiap orang berbeda, tetapi paling tidak Saya menulis apa yang Saya simpulkan dari pengalaman menemani atau bertemu dengan beliau.
Pertama: Penuh semangat. Di dalam perjalanan yang kami lakukan, beliau selalu memberikan penjelasan kepada kami dengan gaya obrolan santai namun berisi. Beliau pandai memberikan pernyataan-pernyataan pengalaman secara sederhana namun trus menerus. Kami mendengarkan cerita beliau tak henti-hentinya mulai dari perjalanan, ketika mengisi acara, bahkan sampai tiba kembali pulang ke ndalem beliau. Beliau berbicara pada kami bagaimana menjadi manusia pemimpin, manusia yang berkarakter kuat, menjadi manusia yang selalu menebar manfaat kebaikan pada orang lain dengan cara berbagai pengalaman beliau. Tidak lupa sesekali beliau menanyakan pendapat atau komentar Saya tentang apa yang beliau katakan.
Kedua: Selalu berfikir tentang ilmu, Tuhan, dan Rasulullah. Sambil berbicara, beliau sangat sering juga membacakan ayat-ayat Al Qur’an yang beliau jadikan dasar dari argumentasi yang beliau sampaikan. Tak ayal, kadang juga beliau sesekali meminta Saya untuk membuka ayat Al Qur’an dan memint Saya membacanya. Tentunya Saya harus siap dan sigap dengan pertanyaan beliau dan segera mencari jawabannya. Untungnya di handphone Saya ada dan tinggal Saya klik, muncul deh heheheh.
Beliau sangat sering dan seakan Saya suda hampir hafal bahwa beliau dalam segenap pembicaraanya membawa kami untuk selalu “sowan” kepada Rasulullah saw agar kami bisa dekat kepada Allah. Dari ucapan yang beliau lontarkan, menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang terus berpikir tentang alam, dan mendekat diri pada Rasulullah dan Allah swt.
Ketiga: memahami situasi. Di momen-moment lain yang pernah saya ikuti, saya sering melihat beliau memberikan penjelasan tentang sesuatu materi, beliau dengan sangat mudah bisa mengkolaborasi materi dengan kehidupan dan moment yang berhubungan dengan tempat di mana acara itu berlangsung. Beliau dengan sangat mudah membaca tingkat pemikiran audiens dan pemahaman mereka. Bila menjadi narasumber, beliau memerhatikan psikologi audiens. Ketika kami berada di dalam mobil, beliau sangat mudah membawa kami ke dalam diskusi yang renyah dengan joke-joke sederhana.
Empat: rendah hati. Saya menyaksikan bagaimana beliau mau menyapa siapa saja yang hadir dalam sebuah forum. Sesungguhnya ini sudah Saya pahami lama. Ketika masih memimpin UIN Malang, Prof. Imam sangat dekat dengan para karyawan di level bawah. Apalagi didukung oleh kelihaian beliau dalam berkomunikasi dengan siapa saja. Beliau mau mendengarkan beragam pertanyaan Saya dan mau mendengar pendapat kami. Bahkan yang sangat Saya kagumi adalah ketika beliau menjadi narasumber di berbagai momen, setelah menjelaskan sebuah ilmu, beliau sering bertanya kepada orang terdekatnya apakah apa yang disampaikan beliau sudah benar? Cukup? Atau adamanfaatnya bagi pendengar?. Sekelas tokoh besar mau bersikap begitu adalah sesuatu yang kadang tidak ditemui di tokoh lain. Dan sebagai hasilnya adalah saya juga menyaksikan kecintaan orang-orang kepada beliau. Rasulullah pernah bersabda bahwa tidak ada seseorang yang mempunyai sifat rendah hati karena Allah, kecuali Allah mengangkat (derajat)-nya.
Lima: Ringan hati bila diminta berjuang. Sudah menjadi rahasia umum bagi kami yang sering sowan ke beliau bahwa beliau menjabat di berbagai organisasi atau lembaga. Entah itu sebagai Pembina, pelopor, atau lainnya. Beliau adalah tokoh besar UMM, UIN Malang, Yayasan Tebuireng Jombang, Pondok Gontor, Universitas Islam Malang, IAI Al Qolam, dan masih banyak lagi. Bahkan beliau masih mau mengayomi banom-banom dan lembaga NU dari level ranting sampai level pusat.
Enam: Sederhana. Kesederhanaan beliau terlihat dari cara berbusana, sikap, cara berpikir bahkan dari cara beliau menyampaikan materi. Cara menyampaiakn materi biasanya beliau sampaikan dengan bercerita pengalaman beliau lalu bagaimana beliau berpikir tentang hal itu.

Tujuh: Tidak banyak komplain. Saya melihat beliau tidak mempermasalahkan seperti apa jamuan yang disuguhkan, tempat yang disediakan, ataupun agenda agenda yang harus beliau lakukan. Ketika kami datang beliau duduk dengan sangat tenang dan langsung membangun suasana dengan menanyakan hal-hal yang gampang sekali dijawab karena berhubungan dengan orang yang beliau ajak bicara. Ini mungkin juga salah satu kenapa beliau dibilang sangat jago melobi sampai-sampai beberapa Negara semenanjung arab mau mengirimkan banyak buku ke UIN Malang.
Delapan: Bila bertamu, menghormati tuan rumah. Yang Saya kagumi adalah beliau sangat mudah untuk melakukan sesuatu untuk menyenangkan tuan rumah. Saya teringat bahwa ketika seseorang bertamu maka dia seperti jenazah di depan orang yang hidup. Artinya sebagai tamu bersedia melakukan hal yang menyenangkan tuan rumah.
Sembilan: Ahli retorika. Keluarga besar UIN Malang sangat paham kalau Prof. Imam sangat ahli dalam berkomunikasi. Sang master lobi. Berbicara dengan kalangan apa saja beliau mudah nyambung. Pantaslah beliau selalu bilang bahwa komunikasi itu salah satu jalan sukses. Anda pasti tidak akan menyangka bahwa beliau bisa mengisi di berbagai forum yang sangat berbeda dan tak semua orang bisa. Contohnya adalah beliau bisa menjalin hubungan baik dengan LDII, Muhammadiyah, Syiah, bahkan lintas agama.
Sepuluh: Suka berbagi. Saya sudah sering sekali mendengar cerita bagaimana beliau sangat memperhatikan para karyawan mulai dari tukang kebun, satpam sampai pada yang perkantoran di kampus UIN Malang, beliau memperhatikan dan membantu perekonomian mereka. Bahkan tunjangan rektor selama hampir 16 tahun tidak beliau ambil tetapi beliau berikan untuk kemaslahatan orang lain. Ketika menjadi rektor, Prof. Imam berusaha menghajikan para dosen-dosen juga, serta banyak hal lainnya. Beliau juga tidak sungkan-sungkan berbagi pemikiran, ilmu, dan pengalaman beliau. Dan itupun tidak pernah meminta bayaran. Saya tahu benar ketika beliau mengisi acara-acara di Lakpesdam dan Ma’arif, NU Prof. Imam melakukan dengan tulus.
Sebelas: Berkemauan kuat, dari cerita pengalaman beliau mulai dari ketika aktif di UMM, membangun UIN Malang sampai ketika bercerita bagaimana lembaga bisa besar. Ada hal yang sangat menarik yang Saya dengar langsung dari beliau soal perjuangan dan kecintaannya pada lembaga pendidikan. Prof. Imam pernah berkata langsung kepada Saya “Bila Saya menemukan seseorang atau sesuatu yang mana itu berguna bagi lembaga pendidikan Saya, maka akan Saya minta, bila tidak boleh akan Saya pinjam, bila tidak maka akan Saya sewa, bila tidak boleh akan Saya beli, bila masih saja tidak boleh maka akan Saya “rebut” demi perjuangan lembaga pendidikan. Bukan untuk Saya”.
Dua belas: Penulis hebat. Ini sudah menjadi rahasia umum kalau prof. Imam sangat jago dalam menulis. Bahkan beliau mendapat penghargaan dari MURI atas kehebatan beliau setiap pagi menghasilkan satu artikel selama beberapa tahun lebih. Sampai-sampai beliau pernah cerita kepada saya bahwa web yang berisi tulisan beliau di “hack” oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Di dalam perjalanan Kami dari wajak, beliau bilang kepada saya “Saya tadi sambil menunggu sampean, saya membuat sebuah artikel, ini akan saya bacakan”. Kemusi beliau dengan sangat rendah hati mau membacakan hasil tulisan beliau. Ini sungguh sangat mengesankan bahwa setiap waktu menjadi sesuatu yang produktif.
Itu beberapa hal yang Saya rasa, Saya tangkap dalam pikiran Saya, atau yang Saya simpulkan dalam perjalanan Saya mendampingi beliau. Hingga Saya terus berdiskusi dengan beliau sampai mobil yang kami naiki masuk ke halaman rumah Prof.Imam.
Mungkin orang lain bisa berbeda pendapat dengan yang Saya alami. Namun seperti yang terkadang beliau katakan, soal pengalaman pribadi apakah orang lain bisa menghakiminya?. Semoga ini menjadi teladan bagi Saya yang masih belajar. Ini bukan kali pertama dengan beliau, dan Saya yakin banyak moment berikutnya juga yang menanti kami.
Wallahu a’lam
Sabtu, 28 Mei 2022
20.45 wib