Oleh: Muhammad Masykur Izzy Baiquni
Kamis 03 November 2022

“Musuh terbesar mempelajari sesuatu adalah mengetahuinya” Maxwell
Rabu 02 November 2022 adalah waktu di mana saya dan mahasiswa Tadris Semester 5 untuk belajar ke MTs NU pakis Malang. Sebuah madrasah dengan perkembangan dan kemajuan yang pesat dan menjadi rujukan sekolah-sekolah mulai dari Sumatera hingga ke Papua. Sebelumnya saya juga telah mengajak MTs dan MA tempat saya mengajar untuk studi banding di MTs NU Pakis. Beruntunglah saya karena kepala sekolah MTs NU Pakis Dr. Najmah,M.Pd. adalah sahabat saya dan lebih tepatnya saya memposisikan diri sebagai orang yang belajar kepada beliau.
Saya mengajak mahasiswa untuk langsung belajar tentang Perencanaan Pembelajaran khususnya pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sana. Ini belajar tentang realita atau kontekstual bukan belajar tentang teori keilmuan semata. Apalagi kepala sekolahnya juga pernah mendapat penghargaan sebagai kepala sekolah terbaik nasional.
Ibu Dr. Najmah,M.Pd. adalah alumni jurusan Bahasa Indonesia Universitas Negeri malang. Ini menjadi salah satu energy besar untuk mensupport mahasiswa tentang pentingnya bahasa Indonesia, pengembangan Bahasa Indonesia di sekolah, dan peran-peran yang bisa diisi oleh orang-orang yang menekuni Bahasa Indonesia.

Ternyata respon mahasiswa sangat bagus, saya melihat mereka lebih bersemangat dari sebelumnya. Saya perlu mengajak mereka ke tokoh-tokoh hebat untuk memotivasi mereka, dan bagaimana mereka akan bisa menemukan pendidikan nyata yang tidak mereka temukan di ruang kelas perkuliahan. Saya tekankan bahwa kita datang untuk belajar dan kita harus bisa belajar semaksimal mungkin di sana, sehingga sebelum ke lokasi, mahasiswa sudah menyiapkan hal-hal yang perlu mereka pelajari di sana. Saya sangat senang ternyata mahasiswa mau menginisiasi sendiri semua keperluan yang akan mereka bawa ke sana.
Saya berpikir bahwa mahasiswa Al Qolam di fakultas tarbiyah akan lebih baik bila lebih sering belajar secara kontekstual kepada para tokoh yang juga praktisi di bidang masing-masing. Setelah mereka memahami ilmu di perkuliahan selanjutnya mereka mempelajari praktik-praktik di masyarakat pendidikan.

Orang yang mau belajar selalu terbuka terhadap ide-ide baru dan ingin belajar dari siapa pun yang menawarkan sesuatu. Memang sangat luar biasa mengetahui betapa banyak seseorang harus belajar sebelum menyadari betapa minim pengetahuannya. Saya menekankan kepada mereka bahwa belajar adalah sebuah proses. Saya teringat akan kisah Cato dari Romawi yang memulai belajar bahasa Yunani ketika usianya lebih dari delapan puluh tahun. Ketika ditanya mengapa dia mau melakukan hal sesulit itu di usianya yang sudah sangat tidak muda, Cato berkata “Ini usia paling awal yang telah saya tinggalkan.”
Tentunya setelah belajar dari sana mereka akan menuliskannya dalam bentuk karya. Menuliskannya membuat pembelajar ingin belajar lebih dalam, sehingga dorongan belajar akan mencuat ke level berikutnya. Belajar adalah proses sepanjang hayat. Ini sangat membantu saya dan mahasiswa untuk terus bertumbuh. Belajar untuk mengetahui dan selanjutnya belajar untuk bertindak/mengamalkan. Maxwell memberikan pemikirannya mengenai bagaimana kita belajar dan bertumbuh. Langkah-langkahnya dimulai dari langkah kesatu bertindak, langkah kedua carilalah kesalahan Anda dan evaluasilah, langkah ketiga carilah jalan supaya melakukan hal itu lebih baik lagi, langkah keempat kembali kelangkah kesatu.
Saya tertarik dengan sebuah kalimat super bijak bahwa musuh terbesar dari mempelajari sesuatu adalah mengetahuinya, dan tujuan dari pembelajaran adalah tindakan/pengamalan.
wallahu a’laam