Muhammad Masykur Izzy Baiquni. Selasa 24 Januari 2023

Problematik dalam lingkungan pendidikan beragam dan berkembang. Mahasiswa Fakultas Tarbiyah harus bisa memahami bentuk bentuk manajemen resiko yang dihadapi oleh sekolah atau madrasah sampai pada problematik dalam pelaksanaan pembelajaran. Selama ini mahasiswa lebih banyak berfokus kepada pengetahuan tekstual di bangku kuliah. Selanjutnya bagaimana caranya agar mereka skill juga menjadi problem solving bagi dunia pendidikan.

Dalam beberapa bulan ini saya mengajak dosen mahasiswa untuk belajar secara langsung di sekolah-sekolah yang memiliki spesifikasi kelebihan atau keunikan. Saya mengajak mahasiswa diantaranya berkunjung untuk belajar langsung di MTs. NU Pakis Malang yang memiliki manajemen yang bagus dan banyak mendapatkan prestasi, saya juga mengajak mereka melihat MI berbasis sekolah alam. Di lain waktu saya mengajak mahasiswa untuk bisa menampilkan keterampilan mereka dalam bidang Bahasa dan sastra. Salah satu program pengembangan kualitas keterampilan bidang Bahasa dan Sastra Indonesia adalah mengadakan pentas seni, Bahasa, dan satra di beberapa madrasah. Kadang kala mereka berkegiatan mengunjungi situs budaya lokal yang bisa mereka dalam nilai-nilai kearifannya.
Ini juga saya terapkan di beberapa program studi lainnya. Di program Studi Tadris Bahasa Inggris, saya mengajak dan mempromosikan mahasiswa ke berbagai sekolah. Diantaranya kita laksanakan program pengabdian mahasiswa di SMK WD Turen, MTs. dan MA Roudlotul Ulum Pagak dengan membumikan pembelajaran Bahasa Inggris yang menyenangkan, dan membangun English Area. Pada Program Studi Pendidikan Agama Islam kita promosikan anak anak untuk membantu siswa-siswa yang belum bisa mengaji dan kegiatan ibadah lainnya.
Kegiatan seperti ini perlu terus dikembangkan untuk membangun pengetahuan yang nyata dan melatih kemampuan problem solving pendidikan di kampus dengan kenyataan di masyarakat. Dengan berbagai kegiatan beragam ini, Saya berharap keterampilan umum dan keterampilan khusus mahasiswa semakin bagus. Dan salah satu akibat positifnya adalah capain luaran outcome dari Fakultas Tarbiyah semakin baik. Rumusan sikap dan keterampilan umum sebagai bagian dari capaian pembelajaran lulusan untuk setiap tingkat program dan jenis pendidikan tinggi mengacu kepada Permenristekdikti No.44 Tahun 2015 tentang Standar nasional Pendidikan Tinggi.
Selanjutnya forum program studi membuat rumusan pengetahuan dan keterampilan khusus. Seperti capaian yang harus dikuasai oleh mahasiswa program sarjana di bidang Bahasa Indonesia mencakup (1) menguasai konsep-konsep dasar keBahasaan dan kesastraan, keterampilan berBahasa dan sastra, pembelajaran Bahasa dan sastra, penelitian Bahasa dan sastra, serta penelitian pendidikan Bahasa dan sastra; (2) menguasai prinsip-prinsip pedagogi dan psikologi pendidikan; (3) menguasai konsep teori pengembangan pembelajaran Bahasa dan sastra; dan (4) menguasai prinsip dan manajemen kewirausahaan bidang Bahasa dan sastra Indonesia, serta pembelajarannya. Ini adalah hasil dari perumusan dari Ikatan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (IKAPROBSI).

Penguasaan keterampilan khusus program sarjana pendidikan Bahasa Indonesia mencakup (1) mampu berBahasa dan bersastra Indonesia, secara lisan dan tulisan dalam konteks keseharian atau umum, akademis, dan pekerjaan; serta mampu menggunakan Bahasa daerah; (2) mampu mengapresiasi, mengekspresi, mengkreasi karya sastra Indonesia secara lsan dan tulis; (3) mampu menganalisis dan menerapkan teori, konsep, pendekatan dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia; serta menghasilkan desain pembelajaran yang inovatif untuk pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia; (4) mampu merencanakan dan melakukan kajian terhadap implementasi pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia melalui pendekatan secara integrasi; dan (5) mampu menghasilkan layanan jasa dan produk kreatif dalam bidang Bahasa dan Sastra Indonesia, serta pembelajarannya.
Setelah mereka mempelajari standar capaian pengetahuan, skil, dan sikap yang harus mereka kuasai. Mahasiswa mempelajari inovasi-inovasi pendidikan dan pembelajaran. Mereka juga mempelajari masalah-masalah pendidikan di lembaga. Dengan harapan selanjutnya mahasiswa mampu menerapkan perbaikan berkelanjutan (quality improvement) atau kalau dalam budaya Jepang disebut kaizen.

Mahasiswa belajar mengadopsi langkah untuk perbaikan berkelanjutan dalam menyikapi problem bisa dengan melakukan (1) identifikasi area masalah; (2) mengamatai dan mengidentifikasi penyebab masalah; (3) menganalisis, mengidentifikasi, dan memverifikasi akar penyenbab masalah; (4) merencanakan dan melaksanakan tindakan pencegahan; (5) periksa efektivitas tindakan yang diambil; (6) standarisasi perbaikan proses; dan (7) tentukan tindakan masa depan. Sejenak meskipun semua langkah ini belum bisa dilakukan oleh mahasiswa, setidaknya mereka sudah mulai mengasah pengetahuan, skill, dan sikap menuju outcome based education.
Wallahu a’lam
Senin, 23 Januari 2023